“LASKAR PELANGI” PESAN BUAT PARA PENGUASA

Hiduplah Untuk Memberi Sebanyak-Banyaknya

Arista Junaidi

Arista Junaidi

Bukan Untuk Menerima Sebanyak-Banyaknya.
(Pak Harfan Dalam Film Lascar Pelangi).

Menonton Laskar Pelangi, seperti menonton kondisi Indonesia saat ini. Film garapan Riri Reza dan Mira Lesmana – berdurasi kurang lebih 110 Menit, diambil dari Novel karya Andrea Hirata “Laskar Pelangi”, Seakan ingin mengajak kita (baca: para penonton) untuk sedikit merenung tentang apa yang kita lihat selama ini. Pantas saja, Presiden SBY, sempat meneteskan air mata ketika menonton launching filmnya. Karena Wajah manis Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam seakan ingin di pertanyakan kembali. Untuk apa kekayaan alam yang kita miliki namun tak mampu dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama? Itulah gambaran pembuka film ini. Dengan tampilan Rakyat Belitong yang dimiskinkan oleh perompak kekayaan Timah. Anugreh Tuhan yang diberikan.
Dari awal film ini, sesungguhnya siapapun dia pasti akan merasakan aroma kesedihan. Betapa tidak, opening story menampilkan sebuah Perusahan Timah raksasa – terbesar di Indonesia saat itu, berdiri dengan angkuhnya. Mempetakan masyarakat sesuai dengan strata sosialnya, menjadikan mayoritas pribumi Belitung hanya sebagai kuli kasar penganggkut Timah, mendirikan bangunan Sekolah (SD Negeri Belitung PN Timah) yang hanya mampu di akses orang yang berduit – memiliki jabatan pada perusahan tersebut, lebih jauhnya mengisolasikan Masyarakat dari kekayaan alam yang mereka miliki. Sedangkan, diluar bangunan perusahan yang kokoh itu, bergelimpangan penduduk miskin yang tak kebagian “faedah” hasil eksploitasi timah, yang hanyalah mampu menyekolahkan anak-anak mereka di sebuah “gubuk reot” bernama sekolah – SD Muhamadiyah Gantong namanya. Inilah awal ke 11 Laskar Pelangi (Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek Aka Samson, Trapani dan Harun ditambah Flo yang bergabung saat kelas 5 SD) itu mengejar mimpi mereka.
Dengan Icon Pak harfan – Kepala Sekolah yang akhirnya meninggal dan ibu Muslimah – seorang gadis kampung lulusan SKP setara dengan SMP, berprofesi sampingan sebagai tukang jahit, kesebelas anak yang memliki kecerdasan merata di poles menjadi generasi yang tak mudah menyerah. Nilai – nilai kehidupan mulai di tanamkan. Keterbatasan mulai dilampaui. Etos kerja dan semangat juang diasah. Yang akhirnya mampu mengangkat eksistensi sekolah yang akan ditutup jika Muridnya tak mencukupi 10 orang, dengan memenangi Lomba Karnaval dan Cerdas- cermat yang sangat Prestisius tingkat SD se – Belitung. Luar biasa.
ari situ, sebuah konstruksi sekolah yang berlimpahan materi gugur tanpa syarat. Orang pun akan menyadari bahwa, kesuksesan seseorang tidaklah mutlak terletak pada sekolah yang memasang tarif gila-gilaan, fasilitas yang modern dan sarana yang lengkap. Namun lebih pada kemauan dan kemampuan siswanya. Ditambah dengan semangat pengabdian sang pendidik, yang tak terlalu memperdulikan berapa gaji yang dia terima. Inilah esensi idiom “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Tapi bukan berarti, tak ada bayaran sama sekali untuk seorang guru. Idiom di atas hanyalah Piagam Imaterial yang akan diterima seorang guru yang memahami nilai profesi yang digelutinya. Tetap saja, kesejahteraan guru merupakan yang utama. Pemerataan terhadap sarana-prasarana Sekolah harus dilakukan. Alokasi anggaran 20 % untuk pendidikan wajib direalisasikan. Agar tak ada lagi guru yang kaya kecerdasan namun miskin material. dan murid yang punya kecakapan intelektual tapi tak bisa mengakses pendidikan (Lintang adalah bukti hidup dari film tersebut – bersekolah dengan jarak tempuh 40 Km dari rumahnya pulang pergi ). bukankah UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 menjamin bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan?
Cerita film pun berlanjut, dengan tampilan Hitam Putih kehidupan yang dijalani mereka. Kali ini fokus Nilai tertuju pada arah kepemimpinan yang ideal. Pa Harfan, dengan kondisi fisik tak lagi fresh, usia yang telah udzur sanggup menjalankan amanahnya sebagai kepala SD tersebut – tanpa pamrih atau mengelus-elus soal bayaran – apalagi memegang sikap elitis. Sempat di tertawain oleh teman sejawatnya dan di sarankan tutup karena sekolahnya hanya di isi oleh siswa kelas 5 saja – yang lainnya tidak terisi. Namun apa yang beliau jawab “ Sekolah ini masih di butuhkan karena tidak mendasarkan kepada Nilai-nilai Materi”. beliau seperti seorang filsuf besar pendidikan yang pernah dimiliki bangsa ini – Ki Hajar Dewantara yang dalam dirinya terpatri semangat Tut Wuri Handayani (di depan sebagai pelita atau penunjuk arah, di tengah sebagai penyemangat dan di belakang sebagai pendorong). Yang sangking mencintai pendidikan, rela tak memperdulikan kesehatan fisiknya, akhirnya merenggut nyawa di tempat yang ia cintai – Ruangan Sekolahnya. Begitupun dengan Bu Muslimah – Wali kelas mereka, dengan kemampuan serba bisa. Mampu memberikan suntikan Imaginasi kepada Murid-muridnya Untuk terus berkreasi mengejar mimpi. Memilih untuk tetap bertahan. Demi sabuah prinsip yang ia pegang “Orang miskin juga punya hak untuk belajar”. Padahal, ia sempat di tawar menjadi Guru di SD PN Timah, Yang Prospek kesejahteraannya sungguh menjanjikan. Walaupun ia juga sempat merasakan keputusasaan saat meninggalnya Pak Ci – sapaan akrab Pak Harfan. Inilah wujud The Leader of Future. Sanggup merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Punya sensitifitas sosial yang tinggi. Sangat demokratis, tak arogan. Namun bisa otoriter dan menjadi “galak” saat bawahannya melakukan kesalahan. Tidak seperti saat ini, para pemimpin yang ada sukar di percaya. Tak punya visi, Serakah dan tak berani ambil resiko. yang kerjaannya hanyalah menebar janji pada rakyatnya. KKN yang dipertontonkan.

PESAN BUAT PARA PENGUASA
Tak sampai disitu nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut. sebuah Nilai kritis pun di pertontonkan – Nilai Keadillan namanya. Terekam sangat jelas, disparitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di salah satu pulau terkaya Indonesia – Pulau Belitung. Hegemoni kapitalisme begitu tampak. Dengan berdiri kokohnya sebuah perusahan Timah. Seakan ingin berteriak kepada pemerintah, mengenai develovment logic of oriented growth yang selama ini dipakai, ternyata salah dan gagal menciptakan kesejahteraan. Asumsi bahwa, semakin banyak Investor yang masuk dan mendirikan perusahan pengeksplorasi SDA akan mampu mengurangi beban pemerintah dalam mengurangi pengangguran tak terjadi sedikit pun, karena yang terjadi banyak tenaga kerja diserap dengan menggunakan sistem Romusa modern “bergaji”, yang angkanya tak sesuai dengan jasa yang mereka berikan. Mimpi mengenai trickle down effect (menetes ke bawah) hanyalah bayangan semu yang berubah menjadi trickle up effect (menetes keatas). Terlihat dengan semakin banyak Masyarakat yang mengabdikan diri sebagai kuli Penganggkut Timah pada Perusahaan tersebut, tak satu pun dari mereka yang taraf hidupnya naik alias sejahtera. Yang sejahtera justru orang-orang yang “tak berkeringat” yang menyebut dirinya Top Manager. Singkatnya, jangan terlalu percaya dengan para investor – apalagi investor asing yang menanamkan modalnya, karena sesungguhnya logika investasi yang mereka pakai adalah logika “profit imperialis”, yang hanya mengejar keuntungan dan menguasai sumber daya alam namun tak bertanggung jawab pada kerusakan alam hasil eksploitasi – Freeport Indonesia dan Newman Minahasa adalah bukti yang paling nyata plus UUPM – Undang-Undang Tentang Penanaman Modal Pasal No 25 thn. 2007 Ayat 1, 2, 3 produk Pemerintah yang membolehkan Hak Guna Atas Tanah selama 95 tahun, Hak Guna Atas Bangunan selama 80 Tahun dan Hak Pakai selam 70 tahun. Gila bukan?
Selain itu Ada banyak Nilai yang terkandung dalam film realis tersebut. Nilai–nilai tersebut – selain telah di jelaskan diatas, lebih mengarah pada nilai Motivasi yang mengeksplorasi bakat diri, juga Nilai kebersamaan yang mengajarkan tentang arti pentingnya persahabatan, Nilai kejujuran yang melahirkan keterbukaan dan Nilai Cinta Kasih yang menuntun penghargaan pada pluralitas kehidupan.
ampir tak ada kata-kata yang keluar saat melihat narasi film tersebut berjalan. Penuh inspratif, mendidik, kritis, kocak dan jujur pada realitas. Inilah contoh film, yang seharusnya lebih banyak diproduksi oleh insan perfilman. Karena film seperti ini tak mengobral kebohongan soal realitas kehidupan. Tak mengajak penonton untuk bermimpi hedonis – instan. Juga tak merusak anak muda khusunya perempuan untuk berpenampilan seronoh, terjebak dalam konstruksi zaman materialis. Intinya generasi bangsa akan selamat, jika tampilan film seperti ini menghiasi wajah Media elektronik.
Terakhir, pesan dari Tukbayantula – Tokoh Mitos di Pulau Lanung yang dianggap dukun oleh Mahar dan Flo bahwa “Kalau Mau Pintar Belajar, Kalau Mau Maju Usaha”. Sekian.

ARISTA JUNAIDI
WASEKUM PPD HMI CAB. AMBON.
DIREKTUR UTAMA FREEDOM COMUNNITY FOR DEMOKRASI (FCfD).

1 Komentar

  1. Sering kali kita mengejar MIMPI

    Seolah – olah impian itu adalah TARGET

    Susah payah penuh pengorbanan mimpi DIKEJAR

    Setelah tercapai kita akan kembali BERMIMPI

    Hidup adalah untuk IBADAH

    Ibadah itu bukanlah BERMIMPI

    Karena ibadah adalah hidup HARI INI

    Memaksimalkan HARI INI dan DETIK INI

    Masa depan adalah MISTERI

    Masa lalu adalah HISTORI

    Mimpi hanya membatasi KEMAMPUAN

    MAKSIMALKAN HARI INI UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

    http://fusion-kandagalante.blogspot.com


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.