Dalam hitungan detik Sidang Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu politik (SUM-DPM Fisip) akan segera berlangsung. agenda tahunan yang selalu di buat untuk memilih kepengurusan DPM Fisip yang baru. Seperti prosesi seremonial memang, karena hadir di saat momentum masuknya Mahasiswa baru.
Kita pantas menyebutnya seperti itu. Karena fenomena yang tampak dari periode ke periode setiap kepengurusan selalu sama, tak ada bedanya. padahal setiap kepengurusannya selalu di isi oleh para anak muda yang sangat produktif dari segi ide dan usia. Adakah yang salah dari pelaksanaan SUM tiap tahunnya, sehingga menghasilkan kepengurusan yang tak bernyali untuk menyuarakan kepentingan mahasiswa? Atau memang SUM adalah hasil dari sebuah system yang sengaja diperilhara oleh para elit kampus, untuk membungkam setiap langkah kritis mahasiwa untuk menyuarakan kebenaran?
Entahlah. Yang pasti, system yang kolot ini sudah seharusnya di kritisi bahkan diganti oleh system yang baru dan progresif. Mengapa? Karena sangat sederhana. Kita bisa lihat dengan menggunakan pendekatan Kwantitatif-realis. Sudah representative – partisipatoris kah jika, Setiap SUM berlangsung hanya ada beberapa orang yang boleh masuk menjadi peserta dan mempunyai hak memilih dan bersuara. Adilkah itu? berapa jumlah mahasiswa di Fisip ini tiap angkatannya (terhitung dari angkatan yang masih produktif 2004-2007). Kita bisa berasumsi jumlahnya berkisar 1000an dari ke-empat angkatan itu. Itu berarti, secara matematis SUM dengan mengunakan system perwakilan yang dipakai, hanya akan ada 15 orang per angkatan yang boleh masuk dari total 200 orang per angkatan. Tentu tidak adil bukan. Kemanakah hak politik 185 orang mahasiswa lainya.
Belum lagi, jika kita mengunakan pendekatan kwalitatif, yang sangat bersandar pada Kwalitas SUM tersebut. Sudah berkualitas kah setiap mahasiswa yang ingin mencalonkan diri menjadi kandidat ketua umum? Dimana indicator kecerdasan itu, jika yang menilai hanya beberapa orang saja? tak ada kampanye mimbar bebas, tak ada debat kandidat, tak ada penyampaian visi-misi di hadapan seluruh mahasiswa, dan tak ada partai pengusung. Yang ada hanyalah “gerbong” yang kuat melawan yang lemah, saling bersikut, melakukan Deal Politik untuk meraih kekuasaan. Hasilnya lembaga ini (DPMF), bagaikan lembaga boneka yang tak punya Power baik di tingkat Mahasiswa, maupun di tingkat para elit Kampus.
Selanjutnya Dimanakah kran Demokrasi partispatoris dari seluruh mahasiswa yang sudah di anut oleh seluruh elemen kampus di tanah air? Mau taruh dimanakah wajah Almomater kita, jika kita selalu bersua lantang soal demokrasi langsung tanpa perwakilan dilakukan, sedangkan kita tak berani, melakukan lompatan itu di kampus kita sendiri. Semua orang sudah bangun dan berlari mengikuti zaman, tapi kita masih tetap tidur, menuggu keajaiban perubahan yang tak pernah datang.
Lucunya lagi, dari segi Trial Politik. Seharusnya, DPMF adalah legislative pengontrol Eksekutif menjalankan kebijakan. Namun yang terjadi pada system kita, tidak ada kejelasan soal pembagian itu. DPMF = Legislative & Eksekutif yang multi fungsi dalam menjalankan tugas. Hasilnya, tak ada dinamisasi dalam kelembagaan. Tak ada Eksekutif Mahasiswa. Dan Lebih jauhnya, tak ada fungsi control dari seluruh mahasiswa, jika para pemimpin lembaganya tak mampu berbuat apa-apa.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan SUM DPM Fisip kali ini, sebagai ajang pembuktian, bahwa kita mampu melakukan lompatan perubahan. Karena arah perubahan sudah tak bisa lagi ditunggu dan Zaman menantang kita untuk Menjadi pelaku sejarah . DPMF harus Berubah Menjadi BEM!!!
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
