Bukanlah Yang Terkuat Yang Akan Terus Hidup,
Melainkan Yang Paling Adaptif.
(Charles Darwin. Ilmuwan).
Tanggal 5 februari 2008 yang lalu, bertepatan dengan Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang Ke- 61 , sorak-sorai gembira terluap disetiap kader, simpatisan dan Alumni HMI Cabang Ambon. Pasalnya selain merayakan bertambahnya usia HMI yang telah berumur setengah abad lebih (1947-2008), agenda “suksesi” kepimpinan ditingkat HMI Cabang Ambon pun bersamaan Dilaksanakan. Amans Hotel (tepatnya dilabuhan Raja Room) menjadi saksi, betapa meriahnya pembukaan konferensi –XXI HMI pada saat itu. Kemudian dari lanjutan kemeriahan itu, lahirlah seorang pemimpin baru yang menjadi harapan semua pegiat maupun pensiunan HMI; Ahmad Ilham Sipahutar.
Tulisan ini tidak ber-oriented membesar-besarkan seorang Ahmad Ilham Sipahutar yang terpilih menjadi pemimpin baru di HMI Cabang Ambon, namun hanya mencoba mengukur seberapa besar kemampuan seorang “Ahmad Ilham Sipahutar”, ketua Umum yang terpilih lewat tensi dinamika yang begitu tinggi dan melelahkan, dalam menahkodai Himpunan ini lewat satu periode kedepan. Juga memberikan pesan bahwa “semakin berat beban sejarah hitam yang harus ia putihkan”.
Semua orang tahu bahwa, sejak kelahirannya, himpunan ini telah banyak memainkan peran strategis di bangsa ini. Bahkan seiring berjalannya waktu, telah empat fase sejarah yang terekam mengiringi perjalannya. Fase pertama, adalah Heroisme atau biasa disebut sebagai Patriotisme. Dimana seluruh geraknya di abadikan ke dalam perjuangan mempertahankan eksistensi Negara dari belenggu penjajahan, yang berbentuk perjuangan bersenjata dan Mobilisasi Umum di seluruh lini HMI (1947-1960an). Fase kedua, adalah Intelektualisme. Fase ini lahir atas Ijtihad HMI pada kemandekan berfikir dalam tradisi islam. Dengan Icon Nurcholis Madjid (alm.), fase ini menghasilkan satu bentuk intelektualisme yang bercirikan pembaharuan bagaimana umat islam seharusnya beragama. Juga lahirnya fase ini sebagai respon atas berlangsungya proses pembangunan yang terjadi di Indonesia.
Fase ketiga, adalah Politisisme. Dimana ciri paling khas dari fase ini adalah masuknya logika kekuasaan dalam tubuh dan pegiat HMI. Rentang waktunya adalah sekitar tahun 1980an. Di fase ini HMI dan para pegiatnya mampu mempersiapakan para aktor yang nantinya masuk pada llingkaran pertama dari keseluruhan proses Politik pada era menjelang awal 1990an. Namun sisi buruk pada fase ini adalah pecahnya HMI menjadi dua (Baca: HMI Dipo dan HMI MPO). Diakibatkan imbas dari kebijakan pemerintah yang ingin menyeragamkan semua ideologi Organisasi menjadi pencasila.
Fase keempat, adalah Fase Freezed (beku). Jika dilihat, Fase ini merupakan fase yang terlama mengendap dalam tubuh HMI (paskah fase ketiga-sekarang). Terlihat dari hampir nihilnya peran HMI dalam melakonkan dirinya dari sejarah bangsa yang seharusnya dilakukanya. Generasi pada fase ini lebih senang memitoskan generasi sebelumnya. Intelektualisme misalnya, HMI lebih senang membanggakan apa yang pernah diperbuat oleh generasi yang dicetak gelombang kedua. Bargaining Power HMI hanya bisa mengandalkan alumni yang dicetak oleh gelombang kedua dan ketiga.
Lamanya fase freezed mengendap dalam tubuh HMI mengakibatkan hilanggnya sel-sel kritis para kadernya. Kini fase ini harus segera diakhiri, tidak boleh lagi kita menjawab pertanyaan apa kontribusi HMI saat ini dengan merujuk pada kebesaran generasi sebelum kita. Kita harus bangkit dan beraktifitas secara nyata dalam mengelola HMI.
Ilham Baru Harapan HMI
Banyak instrumen analisa dan perspektif yang dapat digunakan untuk bisa memahami kondisi HMI saat ini. Salah satunya adalah instrumen Arkeologi dan Geneologi pengetahuan yang diperkenalkan oleh Michael Foucalt. Metode arkeologi memfokuskan kajian pada pernyataan atau wacana dengan sistem prosedur yang memproduksi, mengatur, mendistribusi mensirkulasi dan mengoperasikannya. Sedangkan Geneologi memberikan pusat perhatian pada hubungan timbal-balik antara sistem kebenaran (penyataan/wacana) dengan sistem kuasa (mekanisme yang di dalamnya suatu rezim kuasa memproduksi kebenaran), seperti ucapanya “kekuasaan hadir untuk menciptakan wacana dan wacana diciptakan untuk mendapatkan kekuasaan”.
Dalam pandangan instrumen ini, realitas HMI saat ini tidaklah merupakan suatu realitas yang terbetuk dengan sendirinya. Itu berarti adanya proses diskursif, dimana terjadi proses pengukuhan fundamental codes of cultures dan dan relasi kuasa tertentu dengan proses peminggiran Fundamnetal codes of cultures dan relasi kuasa lainya. Kita bisa lihat dalam lingkup aktifitas keHMIan, dimana kuatnya Fundamental codes of cultures (yang mewakili nalar) bersarang dalam mainstrem berfikir para kader, untuk mencapai kekuasaan lewat legitimasi Relasi kuasa (yang mewakili dimensi politik) saat agenda suksesi seperti konferensi dilaksanakan. Seperti ada sistem wacana / pengetahuan yang sengaja diproduksi, diatur dan di distribusi kesemua nalar berfikir kaders. Hasilnya warna berfikir kaders pada saat itu adalah “one way thingking”. Terlelap dalam kondisi berfikir yang sengaja diciptakan oleh relasi kuasa.
Lahirnya seorang Ahmad Ilham sipahutar menjadi Ketua Umum Terpilih, tidak terlepas dari produksi wacana Fundamental codes of culture. Tarik-menarik Relasi kuasa mengakibatkan kekuasaan yang diraihnya, begitu resisten. Tak heran banyak orang yang memprediksi kepengurusannya akan bernasib sama dengan kepengurusan periode sebelumnya yang berjalan sangat pincang, jika dia tidak mampu menetralisir nalar berfikir para kaders yang masih terhegemoni oleh serbuan Fundamental codes of Culture yang berpolitik oriented dan mengendalikan relasi kuasa yang terus bertikai pasca konferensi.
Mobilitas kerja, konsistensi, istiqamah, taat prosedur AD/ART adalah beberapa bagian prasyarat mutlak baginya untuk menunjukan bahwa, ia layak menjadi “Ilham Baru” di HMI. Di tambah kecerdasan untuk membaca gerak zaman dan keberanian diri untuk menghadapi berbagai momentum (internal maupun eksternal) yang akan datang baik lokal maupun nasional. Akan mampu membentuk secara alamiah wacana fundamental codes of culture yang positif kepadanya. Mobilitas kerja akan menghasilkan inovatif yang dinamis pada roda organisasi, konsistensi akan mengejawantahkan visi-misinya yang ditawarkan saat pertarungan konferensi, istiqamah akan membuat dirinya mampu menyolidkan kepengurusan dari berbagai intervensi, diikuti kiblatan prosedur AD/ART yang menjadi dasar pijakannya, akan semakin membuatnya bak karang besar di laut yang sulit dipatahkan. Hasilnya dia akan mampu melampaui kemapanan tradisi berfikir, bertindak dan bersikap yang selama ini sengaja dimitoskan. Atau paling tidak menghancurkan fase Frezed dan mengantikannya dengan fase Reiventing kejayaan HMI di tingkat HMI Cab Ambon.
Secara tersurat semua itu mampu dia tampilkan dengan sangat menawan dalam selebaran visi-misi yang di bagikan. Namun itu bukanlah jaminan bahwa dalam actionnya nanti akan berbanding lurus dengan sacarik konsep yang ia tuliskan. Singkatnya, segala kemampuan manajerial dan networking yang selama ini terlihat padanya, harus mampu ia gerakan. Jika tidak mau “bernasib sama dengan pimpinan sebelumnya”.
Kita lihat saja, tanggal 25 Maret 2008 saat pelantikan berlangsung. adalah awal baginya untuk menunjukan layak-tidaknya dia menahkodai Himpunan yang besar ini. Apakah “Muslim Intelektual Profesional, istiqamah, tawakal dan tawadhu”, yang menjadi Mottonya bisa menjawab keraguan banyak orang yang merasa “curiga” akan sepak terjangnya. Wallahualam.
Arista Junaidi
Ketua Panitia Pelantikan dan Rapat Kerja HMI Cabang Ambon Periode 2008-2009
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal


yakin usaha sampai…….patria o muerte